Pelajaran dari Diego
Mendieta
Diego
Mendieta pesepak bola asal Paraguay meninggal dunia di Rumah Sakit Dr. Moewardi
Solo. Diego bisa dikatakan meninggal dalam keadaan tragis karena tidak
mendapatkan perawatan yang layak. Kematian Diego ini menimbulkan simpati dan
menghentak kesadaran akan nasib seorang atlet. Entah butuh berapa banyak korban
atlet lagi untuk para penguasa bercermin dan sadar akan kacaunya dunia persepakbolaan
di negeri ini. Sudah jelas contohnya dari kematian Diego, sepak bola yang
begitu populer di kolong jagat raya ini, bisa menjadi kejam di tangan para
penguasa yang tidak bertanggung jawab.
Seorang atlet sudah sepatutnya diberikan penghidupan
yang layak, tapi pada kenyataannya masih terdapat atlet termasuk Diego yang
hidupnya jauh dari sejahtera. Bermain untuk Persis Solo dengan gaji yang tidak
juga cair untuk beberapa bulan tidak menjadikan pemain ini patah arah. Demi menghidupi
istri dan ketiga anaknya, ia ikut berlaga di turnamen bola amatir antar kampung
bahkan ia juga rela menjadi buruh serabutan. Begitu besar pengorbanan yang ia
lakukan untuk menjadi atlet di negeri ini. hingga saat kematiannya tiba
sekalipun, kelayakannya menjadi seorang atlet tak kunjung diraihnya, walaupun
pada akhirnya Persis Solo yang bubar akibat ricuh kepengurusan sepak bola
nasional membayar gaji yang belum diterima Diego dan dikirimkan kepada istrinya.
Siapakah yang paling bertanggung jawab mengenai
kematian tragis Diego ini? kita bisa saja melemparkan tanggung jawab itu kepada
para pengurus organisasi sepak bola di negeri ini, apa pun namanya, yang sudah
terang tidak bertanggung jawab. Para pengurus umumnya bersikap diplomatis hanya
mengucapkan bela sungkawa tanpa memberikan tindakan nyata yang cepat. Pengurus
sepak bola yang luar biasa itu bukan pengurus yang mengucapkan bela sungkawa
disaat seorang pemainnya meninggal secara tragis dan bersikap prihatin. Pengurus
luar biasa itu sejatinya akan mengakui bahwa hal tersebut adalah kesalahannya
dan dia benar-benar membenahinya dengan tindakan, bukan dengan omongan atau
janji-janji.
Setiap kisah memiliki pelajaran dan artinya
masing-masing. Mari bercermin sembari belajar optimisme dari Diego. Bahkan ketika
ia sekarat, pesepak bola ini tulus menuliskan ucapan syukur dan doanya untuk
keluarga dalam secarik kertas yang ditemui di dalam kosannya. Dios Mio, gracias por todo (terimaksih
Tuhan atas segalanya).
Surat terakhir Diego Mendieta
Dan berikut adalah kata-kata yang terdapat dalam benak saya untuk para pengurus persepakbolaan negeri ini:
Untuk mereka yang terlalu sibuk mengamankan posisinya masing-masing
Dan berikut adalah kata-kata yang terdapat dalam benak saya untuk para pengurus persepakbolaan negeri ini:
Untuk mereka yang terlalu sibuk mengamankan posisinya masing-masing
Hingga tak
tergerak lagi hatinya
Untuk mereka yang
terlalu sibuk menuai keuntungan
Hingga kesejahteraan
banyak orang diabaikan
Untuk mereka yang
tertawa
Hingga banyak
orang terbungkam diam dalam kesedihan
Rindukah
engkau akan bocah-bocah bertelanjang kaki memainkan bola
Rindukah engkau menyaksikan pertandingan
yang hebat sampai-sampai engkau sangat antusias menantikan pertandingan itu,
dan
Rindukah engkau dengan Suporter Indonesia yang
meneriaki “Indonesia” dengan penuh semangat hingga mereka menangis menyaksikan
perjuangan para pemainnya
Kami hanya bisa berharap
tapi jangan lupakan kami pun bisa berontak melawan
Kami tidak mahu disamakan
dengan para penguasa-penguasa arogan yang hanya bisa kisruh
Itu sebabnya kami diam,
menunggu, menunggu petarung sejati untuk memberikan perubahan
Negeri ini butuh petarung sejati
Bagaiamana dengan media?
Ah jamgan terlalu berharap banyak kalau tidak mahu sakit
hati
Mereka hanya bersemangat memberitakan sesuatu lain yang
heboh
Mereka terlalu asyik berdebat ngawur
Bagaimana dengan Presiden?
Pemegang tongkat komando tertinggi kita?
Sama saja dengan yang
lainnya, mengeluh gajinya tidak naik-naik
Presiden itu seharusnya
bisa menengadahi persoalan dengan cepat
Tapi Presiden kita memang
hobi membuat kita menunggu, jadi kita tunggu saja
Untuk mereka yang terlalu sibuk mengamankan
posisinya masing-masing
Hingga tak tergerak lagi hatinya
Untuk mereka yang terlalu sibuk menuai
keuntungan
Hingga kesejahteraan banyak orang diabaikan
Untuk mereka yang tertawa
Hingga banyak orang terbungkam diam
dalam kesedihan
Rindukah engkau
akan bocah-bocah bertelanjang kaki memainkan bola
Rindukah engkau menyaksikan pertandingan
yang hebat sampai-sampai engkau sangat antusias menantikan pertandingan itu,
dan
Rindukah engkau dengan Suporter Indonesia yang
meneriaki “Indonesia” dengan penuh semangat hingga mereka menangis menyaksikan
perjuangan para pemainnya
Tidak ada yang lebih indah selain melihat
Indonesia berjaya
Terimakasih Diego
Mendieta telah menjadi bagian dari persepakbolaan Indonesia. Semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Selamat jalan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar