Jumat, 07 Desember 2012

Pelajaran Berharga dari Diego Mendieta


Pelajaran dari Diego Mendieta

Diego Mendieta pesepak bola asal Paraguay meninggal dunia di Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo. Diego bisa dikatakan meninggal dalam keadaan tragis karena tidak mendapatkan perawatan yang layak. Kematian Diego ini menimbulkan simpati dan menghentak kesadaran akan nasib seorang atlet. Entah butuh berapa banyak korban atlet lagi untuk para penguasa bercermin dan sadar akan kacaunya dunia persepakbolaan di negeri ini. Sudah jelas contohnya dari kematian Diego, sepak bola yang begitu populer di kolong jagat raya ini, bisa menjadi kejam di tangan para penguasa yang tidak bertanggung jawab.

           Seorang atlet sudah sepatutnya diberikan penghidupan yang layak, tapi pada kenyataannya masih terdapat atlet termasuk Diego yang hidupnya jauh dari sejahtera. Bermain untuk Persis Solo dengan gaji yang tidak juga cair untuk beberapa bulan tidak menjadikan pemain ini patah arah. Demi menghidupi istri dan ketiga anaknya, ia ikut berlaga di turnamen bola amatir antar kampung bahkan ia juga rela menjadi buruh serabutan. Begitu besar pengorbanan yang ia lakukan untuk menjadi atlet di negeri ini. hingga saat kematiannya tiba sekalipun, kelayakannya menjadi seorang atlet tak kunjung diraihnya, walaupun pada akhirnya Persis Solo yang bubar akibat ricuh kepengurusan sepak bola nasional membayar gaji yang belum diterima Diego dan dikirimkan kepada istrinya.

                Siapakah yang paling bertanggung jawab mengenai kematian tragis Diego ini? kita bisa saja melemparkan tanggung jawab itu kepada para pengurus organisasi sepak bola di negeri ini, apa pun namanya, yang sudah terang tidak bertanggung jawab. Para pengurus umumnya bersikap diplomatis hanya mengucapkan bela sungkawa tanpa memberikan tindakan nyata yang cepat. Pengurus sepak bola yang luar biasa itu bukan pengurus yang mengucapkan bela sungkawa disaat seorang pemainnya meninggal secara tragis dan bersikap prihatin. Pengurus luar biasa itu sejatinya akan mengakui bahwa hal tersebut adalah kesalahannya dan dia benar-benar membenahinya dengan tindakan, bukan dengan omongan atau janji-janji.

                Setiap kisah memiliki pelajaran dan artinya masing-masing. Mari bercermin sembari belajar optimisme dari Diego. Bahkan ketika ia sekarat, pesepak bola ini tulus menuliskan ucapan syukur dan doanya untuk keluarga dalam secarik kertas yang ditemui di dalam kosannya. Dios Mio, gracias por todo (terimaksih Tuhan atas segalanya).
            
   
                                             Surat terakhir Diego Mendieta



 Dan berikut adalah kata-kata yang terdapat dalam benak saya untuk para pengurus persepakbolaan negeri ini:

Untuk mereka yang terlalu sibuk mengamankan posisinya masing-masing
          Hingga tak tergerak lagi hatinya
          Untuk mereka yang terlalu sibuk menuai keuntungan
          Hingga kesejahteraan banyak orang diabaikan
          Untuk mereka yang tertawa
          Hingga banyak orang terbungkam diam dalam kesedihan
         
                  Rindukah engkau akan bocah-bocah bertelanjang kaki memainkan bola
Rindukah engkau menyaksikan pertandingan yang hebat sampai-sampai engkau sangat antusias menantikan pertandingan itu, dan
Rindukah engkau dengan Suporter Indonesia yang meneriaki “Indonesia” dengan penuh semangat hingga mereka menangis menyaksikan perjuangan para pemainnya

Kami hanya bisa berharap tapi jangan lupakan kami pun bisa berontak melawan
Kami tidak mahu disamakan dengan para penguasa-penguasa arogan yang hanya bisa kisruh
Itu sebabnya kami diam, menunggu, menunggu petarung sejati untuk memberikan perubahan
 Negeri ini butuh petarung sejati

          Bagaiamana dengan media?
          Ah jamgan terlalu berharap banyak kalau tidak mahu sakit hati
          Mereka hanya bersemangat memberitakan sesuatu lain yang heboh
          Mereka terlalu asyik berdebat ngawur

Bagaimana dengan Presiden? Pemegang tongkat komando tertinggi kita?
Sama saja dengan yang lainnya, mengeluh gajinya tidak naik-naik
Presiden itu seharusnya bisa menengadahi persoalan dengan cepat
Tapi Presiden kita memang hobi membuat kita menunggu, jadi kita tunggu saja

         
Untuk mereka yang terlalu sibuk mengamankan posisinya masing-masing
                    Hingga tak tergerak lagi hatinya
                    Untuk mereka yang terlalu sibuk menuai keuntungan
                    Hingga kesejahteraan banyak orang diabaikan
                    Untuk mereka yang tertawa
                    Hingga banyak orang terbungkam diam dalam kesedihan
         
          Rindukah engkau akan bocah-bocah bertelanjang kaki memainkan bola
Rindukah engkau menyaksikan pertandingan yang hebat sampai-sampai engkau sangat antusias menantikan pertandingan itu, dan
Rindukah engkau dengan Suporter Indonesia yang meneriaki “Indonesia” dengan penuh semangat hingga mereka menangis menyaksikan perjuangan para pemainnya
Tidak ada yang lebih indah selain melihat Indonesia berjaya 





           Terimakasih Diego Mendieta telah menjadi bagian dari persepakbolaan Indonesia. Semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Selamat jalan.

 

Rabu, 14 Maret 2012

Air Tanah Dalam

Air merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup. Tanpa air, kehidupan manusia pun dapat lumpuh. Salah satu air yang dibutuhkan oleh makhluk hidup khususnya manusia adalah air tanah. Air tanah dklasifikasikan menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam.
Air tanah dangkal berbeda dengan air tanah dalam, hal ini dibedakan berdasarkan letak airnya. Air tanah dangkal terletak tidak jauh dari permukaan tanah dan berada di atas lapisan kedap air. Sedangkan Air tanah dalam atau disebut juga air artesis adalah air tanah yang terletak jauh di dalam tanah, diantara dua lapisan kedap air (impermiabel). Lapisan di antara dua lapisan kedap air tersebut disebut lapisan akuifer. Lapisan tersebut banyak menampung air. Sehingga sebagian orang mengatakannya sebagai sumber air abadi. Jika lapisan kedap air retak, secara alami air akan keluar ke permukaan, hal ini karena tekanan yang tinggi di dalam lapisan akuifer. Air tanah dalam ini biasanya berada dikedalaman lebih dari 60 meter.
Gambar 1-Letak air tanah

Pada zaman dahulu, memang air berlimpah dimana-mana. Dahulu, kehidupan masih tergantung dari alam dan teknologi pun belum secanggih seperti zaman sekarang ini. Akan tetapi dewasa ini, telah banyak daerah yang mulai mengalami krisis air, terlebih lagi ketika musim kemarau datang. Manusia seakan terbuai ketika air sedang berlimpah dan sampai akhirnya merasakan bagaimana deritanya untuk mendapatkan air. Selain itu yang membuat semakin miris, banyak industri-industri, apartemen, dan yang lainnya yang memanfaatkan air tanah dalam secara berlebihan atau dengan skala yang melebihi batas yang didapatkan dengan cara pengeboran. Adapun permasalahan air tanah dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
  1. Penurunan Kuantitas, penurunan kuantitas (jumlah) dari air tanah ini antara lain disebabkan oleh pengambilan air secara berlebihan yang biasanya sebagian besar dilakukan oleh industri-industri, apartement, hotel, dan kantor; adanya perusakan daerah resapan sehingga air tidak meresap ke dalam tanah; terjadinya penurunan muka tanah; dan terjadinya pergeseran batas air laut dan air tawar ke arah daratan.
  2. Penurunan Kualitas, umumnya disebabkan oleh pencemaran atau terkontaknya air tanah dengan bahan-bahan pencemar. misalnya karena pembuangan sampah, pengolahan dan pembuangan limbah yang salah; dan penimbunan senyawa kimia yang berbahaya.
Oleh karena itu, alangkah baiknya mulai dari saat ini kita gunakan air sebijak mungkin dalam artian menjaga kuantitas dan kualitas air demi terciptanya keberlangsungan hidup yang lebih baik. Dan berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melestarikan air tanah, diantaranya yaitu: 
1. Diadakannya regulasi (aturan) yang jelas mengenai pembatasan pemanfaatan air tanah dalam. 
2. Memberikan sanksi tegas kepada siapa saja yang melanggar penggunaan air tanah dalam. 
3. Menanam tumbuh-tumbuhan, khususnya rumput vetiver. Karena dapat mencegah erosi, vetiver juga dapat     menyaring air berpolusi, dapat memperbaiki lahan, serta peningkatan kualitas air . 
4. Membuat sumur resapan, sebab sumur resapan ini dapat menampung air dalam jumlah yang cukup               banyak dan sangat berguna ketika musim kemarau datang. 

 Sumber: dari berbagai sumber

Selasa, 06 Maret 2012

Surat Syamsir Alam untuk PSSI

Sebagai seseorang yang memiliki hobi bermain bola. Saya miris melihat Persepakbolaan Indonesia yang tak kunjung membaik. Tak sengaja ketika sedang menonton salah satu program TV, ada dokumentasi mengenai sepak bola, dokumentasi itu diiringi dengan suara yang berisikan kata-kata "harapan" pemain sepak bola. Ternyata kata-kata itu merupakan surat Syamsir Alam untuk PSSI. Mungkin ini sebagian kecil surat dari pemain sepak bola Indonesia. Berikut isi surat nya : "Kepada yang terhormat bapak-bapak anggota PSSI, ini mungkin curhatan atau isi hati kami sebagai anak bangsa. Kami baru saja ingin memetik atau mewujudkanmimpi kami. Sepakbola adalah mata pencaharian kami untuk menghidupkan keluarga kami, dan untuk mewujudkan mimpi kami bermain di Piala Dunia. Kami berlatih bersimbah keringat dan bahkan terkadang bertumpah darah pun kami alami. Tetapi sekarang kenapa ada orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya masing-masing sehingga merusak mimpi jutaan anak Indonesia. Apakah kami pantas mendapatkan itu? Apakah ada orang yang pantas merenggut mimpi kami? Mungkin sebagai seorang remaja muda, saya tidak mengetahui banyak hal, tetapi kenapa bapak-bapak harus berdebat sampai bercekcokmulut ketika ada kongres yang bisa menjadi sarana bagi kita bekerja sama dan bergotong royong untuk membangun sepakbola? Padahal, kebangkitan sepakbola kita baru saja hendak dimulai. Tolong, jangan ambil mimpi kami, bapak-bapak yang saya hormati. Lihatlah ke arah kami sedikit, bayangkan jika bapak-bapak berada di posisi kami. Bayangkan betapa getirnya perasaan anak remaja yang baru saja ingin meraih mimpi, tetapi kemudian direbut oleh orang-orang yang haus kedudukan. Kami tidak pantas mendapatkannya. Sebagian dari kami akan hidup dari sepakbola, dan jika harus begini apa yang dapat kami lakukan kelak. Barangkali bapak-bapak tidak menghiraukannya, tetapi tolonglah berpikir dengan hati nurani yang jernih. Kami sudah mengorbankan banyak hal untuk mencapai mimpi. Kami tinggalkan sekolah kami, keluarga kami, melewatkan masa-masa muda kami untukmeraih mimpi dan mengabdi kepada bangsa dan tanah air yang tercinta ini. Sekali lagi, JANGAN RENGGUT MIMPI KAMI!"